Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura yang sangat penting di Indonesia dengan rasa pedas yang khas karena kandungan capsaicinnya. Produksi cabai di Indonesia masih tergolong rendah, dan belum dapat memenuhi kebutuhan cabai nasional sehingga pemerintah harus mengimpor cabai lebih dari 16.000 ton per tahun. Rataan produksi cabai Nasional sekitar 4,35 ton /ha, sementara potensi produksi dapat mencapai lebih 10 ton/ha. Kendala biologis dari serangan patogen virus pada tanaman cabai, merupakan masalah utama yang menyebkan turunnya produksi cabai di Indonesia.
![]() |
| Cabai Rawit (Capsicum frutescens) |
A. PERSIAPAN
1. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan.
2. Pengambilan Berbagai Informasi
a. Tobacco Mosaic Virus
TMV merupakan virus yang menyerang tanaman dan pertama kali ditemukan pada tanaman tahun 1880. TMV dapat menginfeksi lebih dari 350 spesies tanaman dan menyebabkan kerugian yang besar pada tanaman tembakau. TMV dapat memperbanyak diri jika berada pada sel hidup, tapi virus ini dapat tetap bertahan hidup pada fase dorman dan jaringan tanaman yang mati selama bertahun-tahun maupun diluar tanaman baik itu didalam tanah, dipermukaan tanah maupun pada peralatan yang telah terkontaminasi virus ini. TMV menyebar secara mekanis “mechanical transmission” dan serangga seperti aphids tidak dapat menjadi vektor bagi virus ini.
b. Gejala TMV pada Cabai Rawit
Tanaman yang terserang TMV menunjukkan gejala, yaitu daun-daun muda berubah menjadi warna belang kuning hijau, keriting serta berkerut, tanaman kerdil, buah belang dan berwarna kuning. Gejala lain yang terlihat adalah munculnya garis nekrosis pada cabai yang menyebabkan terjadinya gugur daun. Virus ini dapat ditularkan secara mekanis melalui cairan perasan tanaman sakit, gesekan antar daun yang sakit dan daun sehat, melalui biji dan melalui tanah.
c. Morfologi Cabai Rawit (Capsicum frutescens)
Batang cabai rawit keras dan berkayu dengan warna hijau gelap, berbentuk bulat, halus dan bercabang banyak dan cabangnya beruas-ruas. Daun berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun rata dan termasuk kedalam daun tunggal. Biji cabai rawit berbentuk bulat pipih, berwarna putih kekuningkuningan, tersusun berkelompok dan melekat pada empulur. Perakaran tanaman cabai rawit terdiri dari akar tunggang yang tumbuh lurus menuju pusat bumi dan akar serabut yang tumbuh menyebar kesamping.
d. Faktor-Faktor yang Membatasi Tanaman Cabai Rawit Mencapai Potensi Genetik Penuh
Kesalahan pada media tanam dapat menyebabkan tanaman gagal tumbuh dengan maksimal. Terdapatnya hama dan penyakit juga menyebabkan pertumbuhan tanaman melambat. Kondisi tanah dan cuaca yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman, kekurangan air dan zat hara, adanya polutan, dan praktik budidaya tanaman cabai rawit yang tidak tepat.
e. Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Rawit
Cabai rawit atau cabai kecil (Capsicum frutescens L.) termasuk dalam famili Solanaceae dan merupakan tanaman berumur panjang (menahun) yang dapat hidup sampai umur 2-3 tahun serta dapat ditanam pada ketinggian antara 0 - 500 m dpl. Cabai cocok ditanam pada tanah gembur, mengandung bahan organik tinggi atau minimal 1,5% dan pH netral (6-7) serta suhu 18 – 32oC Kelembaban udara yang sesuai untuk pertumbuhan cabai rawit adalah 60 - 80%. Kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan pemanfaatn unsur hara dalam tanah menjadi tidak seimbang. Unsur P dapat diserap tetapi unsur N sulit diserap akar tanaman sehingga pertumbuhannya terganggu.
Intensitas curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit adalah 100-1200 mm/tahun. Tanaman cabai tidak cocok ditanam dengan curah hujan yang tinggi karena tanaman cabai rawit akan mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh cendawan atau bakteri misalnya penyakit bercak daun (antraknosa) dan penyakit layu. Tanaman cabai rawit membutuhkan cahya matahari yang cukup sebagai sumber energi untuk fotosintesis yang berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif dan generatif. Kekurangan cahaya matahari akan menghambat pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, sedangkan cahaya matahari yang terlalu tinggi menyebabkan daun klorosis pada tanaman.
3. Pelaksanaan
a. Persiapan Lahan
Cara menanam cabai rawit yang pertama tentunya harus menyiapkan lahan dan menyesuaikan suhu lingkungan terlebih dahulu. Pilih tempat yang cerah dan dikeringkan dengan baik. Tanah harus subur, humus dan kaya akan sumber hara. Sebelum menanam bibit cabai rawit, kamu harus mengeraskan tanah secara bertahap. Setelah itu paparkan bibit cabai rawit ke luar ruangan agar cabai rawit berbuah lebat. Pemaparan cuaca secara bertahap ini membantu bibit menyesuaikan, sehingga tidak akan stres ketika kamu menanamnya. Saat suhu siang hari mencapai 25 derajat Celcius, atur bibit di lokasi terlindung seperti di samping rumah. Lakukan setidaknya selama beberapa jam setiap hari selama 3 atau 4 hari.
b. Pemilihan Bibit dan Penyemaian
Cara menanam cabai rawit selanjutnya adalah memilih bibit cabai. Pertama-tama tentu saja kamu harus memiliki bibit cabai yang berkualitas. Cukup mudah memilih bibit cabai. Pilihlah bibit cabai yang masih segar. Kupas cabai lalu ambil bijinya. Setelah itu jemur di bawah sinar matahari sampai kering.
Langkah selanjutnya dalam cara menanam cabai rawit adalah proses penyemaian. Gunakan polybag ukuran kecil sebagai media penyemaian. Masukkan tanah dan juga pupuk. Campur hingga tingginya polybag. Masukkan bibit cabai pada polybag dan siram setiap hari.
Berikut langkah-langkah penyemaian cabai:
- Siapkan tempat penyemaian. Polybag misalnya.
- Masukkan tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:1.
- Biarkan pada tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari selama 1 minggu.
- Rendam bibit dalam air hangat selama 3 jam.
- Lalu letakkan benih pada polybag. Tutupi benih dengan tanah kira-kira 1 cm saja kedalamannya.
- Tunggu hingga benih berkecambah.
- Kemudian mulai diperkenalkan dengan sinar matahari langsung.
c. Penanaman dan Pemupukan
Setelah berumur 4 minggu, pindahkan benih cabai pada lahan yang telah disiapkan. Menggunakan polybag dengan diameter minimal 30 cm. Menggunakan perbandingan 3:2:1 dengan rincian tanah, pupuk, dan sekam mentah untuk tempat menanam.
Selama masa penanaman, dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kompos sehingga cabai menjadi lebih organik. Setelah di pupuk yang pertama kali, pemupukan selanjutnya kisaran umur tanaman cabai rawit 1 bulan. Selanjutnya setiap panen secara terus menerus di berikan pupuk susulan.
Pemupukan bisa menggunakan pupuk organik atau kompos atau dengan pupuk cair. Tambahkan pupuk cair yang sudah di larutkan dengan perbandingan 100ml / tanaman. Jika menggunakan pupuk kompos berikan 500-700 gram/tanaman. Atau menggunakan pupuk NPK dan urea.
d. Perawatan dan Panen
Penyiraman diperlukan saat musim kemarau saja. Bila konsidisi terlalu kering tanaman cabai rawit bisa mati. Pengairan bisa dilakukan dengan kocoran atau merendam bedengan. Perendaman bendengan cukup dilakukan setiap dua minggu sekali.
Perawatan lain yang diperlukan adalah penyiangan. Karena budidaya cabai rawit jarang menggunakan mulsa maka penyiangan harus dilakukan lebih intens. Mengupayakan membersihkan bedengan dari gulma.
Saat cabai telah tumbuh sempurna. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Caranya dilakukan dengan memetik buah beserta tangkainya. Buah cabai rawit yang dikehendaki adalah yang bentuknya ramping dan padat berisi. Tipe buah seperti ini biasanya rasanya pedas dan dihargai lebih tinggi di pasar dibanding buah yang besar namun kopong Biasanya cabai rawit sudah mulai berbuah dan bisa dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sejak bibit ditanam. Periode panen bisa berlangsung selama 6 bulan bahkan lebih.
Umur tanaman cabai rawit bisa mencapai 24 bulan. Frekuensi panen pada periode masa panen tersebut bisa berlangsung 15-18 kali. Namun semakin tua tanaman, produktivitasnya semakin rendah sehingga tidak ekonomis lagi untuk dipelihara.
C. Evaluasi
Evaluasi sumberdaya lahan, pengendalian, dll perlu dilakukan untuk menilai kesesuaian lahan bagi penanaman tanaman cabai rawit serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Hal ini penting terutama apabila perubahan penggunaan lahan tersebut diharapkan akan menyebabkan perubahan-perubahan besar terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit kedepannya.

pertamax gan
BalasHapusblog walking kuy
Hapus